Kembali ke Berita
Umum

Kupas Tuntas Kitab Kuning, Siswa MA Bilingual Muslimat NU Sidoarjo Siap Hadapi Tantangan Zaman

04 August 2025

SIDOARJO – Di tengah gempuran era digital dan kecerdasan buatan (AI), Madrasah Aliyah (MA) Bilingual Muslimat NU Sidoarjo punya cara tersendiri untuk membekali para pesertanya. Tidak hanya fasih berbahasa asing dan menguasai teknologi, para siswa madrasah ini justru diajak kembali ke akar tradisi intelektual Islam: Kitab Kuning.Melalui program pendalaman literatur klasik atau turots yang dikemas secara intensif, MA Bilingual Muslimat NU Sidoarjo berkomitmen mencetak generasi sains yang religius, atau santri modern yang tidak gagap teknologi namun kokoh secara spiritual.Menjaga Tradisi di Tengah ModernitasKitab Kuning acapkali diidentikkan dengan pesantren tradisional (salaf). Namun, MA Bilingual Muslimat NU Sidoarjo mendobrak sekat tersebut. Sebagai madrasah berbasis bilingual (dua bahasa), integrasi antara ilmu umum, bahasa asing (Arab-Inggris), dan kajian keislaman klasik menjadi menu wajib.Kepala MA Bilingual Muslimat NU Sidoarjo menyampaikan bahwa penguasaan Kitab Kuning bukan sekadar pelestarian budaya, melainkan kebutuhan krusial untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks."Tantangan zaman hari ini bukan hanya soal keahlian teknologi, tapi krisis moral dan hilangnya sanad keilmuan yang jelas. Kitab Kuning melatih siswa berpikir kritis, metodologis, dan memiliki fondasi akhlak yang kuat. Ini modal mereka menjadi pemimpin masa depan," ujarnya.Metode Pembelajaran: Interaktif dan KontekstualPembelajaran Kitab Kuning di MA Bilingual tidak dilakukan secara monoton. Siswa tidak hanya diajak membaca (baca kitab) dan memaknai secara harfiah, tetapi juga diajak untuk:Bedah Kasus Kontemporer (Fiqh Muamalah): Membahas hukum transaksi digital, seperti cryptocurrency, paylater, hingga hak cipta di internet menggunakan pisau analisis kitab fiqih klasik.Penguatan Akhlakul Karimah: Mengkaji kitab-kitab moralitas seperti Ta'limul Muta'allim atau Bidayatul Hidayah untuk membentengi diri dari dampak negatif pergaulan bebas dan kecanduan media sosial.Akurasi Bahasa: Mengasah logika bahasa melalui ilmu Nahwu dan Shorof (gramatika bahasa Arab) yang membantu ketajaman berpikir logis siswa.Dengan metode ini, Kitab Kuning tidak lagi dianggap sebagai teks masa lalu yang kaku, melainkan kompas hidup yang sangat kontekstual dengan isu-isu abad ke-21.Siap Menghadapi Tantangan ZamanMengapa penguasaan teks klasik ini membuat siswa MA Bilingual siap menghadapi masa depan? Setidaknya ada tiga alasan utama:Kemampuan dari Kitab KuningRelevansi di Era ModernMetodologi Bahtsul Masa'ilMelatih kemampuan problem solving dan berpikir kritis tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills).Kekayaan Literatur TradisiMenghindarkan pemikiran radikal atau ekstrem; membentuk karakter Islam Wasathiyah (moderat).Kemandirian BerpikirSiswa tidak mudah termakan hoaks atau rujukan agama instan dari internet yang tidak jelas sanadnya.Siswa-siswi MA Bilingual Muslimat NU Sidoarjo membuktikan bahwa menjadi modern tidak harus tercerabut dari akar tradisi. Dengan Al-Qur'an di dada, Kitab Kuning di tangan, dan teknologi di pikiran, mereka siap melangkah menjadi bagian dari peradaban global.Madrasah ini berhasil membuktikan jargon NU yang legendaris: “Al-muhafadhatu ‘ala qadimi shalih, wal akhdu bil jadidi al-ashlah”—memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.